Berbuka puasa dengan kurma tidak hanya menjalankan sunah Rasul, tetapi juga memiliki landasan fisiologis yang sangat kuat dalam dunia medis. Setelah tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama lebih dari 12 jam, kondisi biokimia tubuh mengalami perubahan signifikan. Kadar glukosa darah menurun, cadangan glikogen di hati menyusut, dan sel-sel tubuh mulai mencari sumber energi alternatif. Mengonsumsi tiga butir kurma saat azan magrib berkumandang adalah langkah strategis untuk mengembalikan keseimbangan metabolisme secara instan namun tetap aman bagi sistem pencernaan. Banyak orang keliru menganggap bahwa semua jenis asupan manis baik untuk berbuka, padahal gula dapat menyebabkan lonjakan insulin yang terlalu tajam dan membebani kerja pankreas secara mendadak. Apa yang terjadi Saat seseorang berpuasa, tubuh berada dalam fase katabolik di mana ia memecah cadangan energi untuk mempertahankan fungsi organ vital. Ketika kurma masuk ke dalam tubuh saat berbuka, terjadi proses pe...
Puasa Ramadhan merupakan praktik ibadah yang melibatkan pembatasan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12 hingga 14 jam setiap harinya selama satu bulan penuh. Secara medis, pola ini dikategorikan sebagai puasa intermiten atau intermittent fasting yang teratur. Selama periode ini, tubuh manusia mengalami transisi metabolisme yang signifikan untuk beradaptasi dengan ketiadaan asupan energi eksternal dalam jangka waktu tertentu. Banyak orang beranggapan bahwa puasa hanya sekadar menahan lapar dan haus yang dapat melemahkan tubuh. Namun, secara klinis, tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan dan adaptasi yang sangat canggih untuk menjaga fungsi organ vital tetap optimal. Memahami apa yang terjadi di dalam sel, hormon, dan organ kita selama 30 hari sangat penting untuk memaksimalkan manfaat kesehatan dan meminimalkan risiko gangguan kesehatan yang mungkin muncul akibat pola makan yang salah saat berbuka atau sahur. Apa yang terjadi Proses perubahan di dalam tubuh selama satu...